Warung Bebas
Showing posts with label Kisah Unik. Show all posts
Showing posts with label Kisah Unik. Show all posts

Thursday, July 5, 2012

Kisah Nelayan Pemburu Mayat

Kisah Nelayan Pemburu Mayat- Pekerjaan yang dilakukan seorang nelayan di China ini barangkali paling aneh di dunia. Wei Xinpeng, nama pria itu, biasa berburu mayat di Sungai Kuning. Wei, seperti diungkapkan oleh laman BBC, kerap memulai harinya dengan nongkrong sambil merokok di tepi sungai. Matanya mengamati air Sungai Kuning yang keruh. Dia yakin, sungai itu pasti selalu menyimpan mayat manusia, entah korban kecelakaan, dibunuh, atau pun bunuh diri.


Lelaki 55 tahun itu seperti hapal aliran sungai, dan dia jeli melihat ke mana arus membawa mayat-mayat yang tenggelam di sungai itu. Biasanya, Wei mendayung perahunya ke dekat satu jembatan kecil di hilir. Di sana, biasanya mayat “parkir” sebentar, karena tersangkut di celah besi jembatan. Dalam tujuh tahun terakhir, mencari mayat kini adalah kegiatan rutin Wei. Dia menjual temuannya itu ke kerabat mayat bersangkutan. “Saya memberi penghargaan kepada si mayat,” ujarnya seperti dilansir dari laman BBC, Senin 22 November 2010.


Wei mengaku telah mengumpulkan sebanyak 500 mayat dari dasar sungai. “Orang-orang ini mati dengan cara mengenaskan,” ujar Wei. Dia mengumpulkan mayat temuannya itu di satu teluk kecil yang tak tersentuh arus. Mayat-mayat beragam bentuk itu ditumpuk di sana. BBC melaporkan, di teluk kecil itu ada empat mayat yang tubuhnya telah kaku, dengan kepala tertelungkup ke bawah. Setiap kali berhasil menangguk mayat, Wei mengumumkannya di koran lokal. Dia menyebut ciri fisik mayat itu, sehingga kerabat yang bersangkutan dapat segera mengenalinya. Biasanya, kerabat si mayat akan menelepon Wei, dan meminta diantarkan ke tempat dia menyimpannya.

Wei membawa kerabat si mayat ke teluk kecil itu. Dia memasang sedikit tarif untuk jasa membalikkan tubuh si mayat agar wajahnya dapat terlihat. Jika kerabat mayat ingin membawanya pulang, maka mereka harus membayar uang tebusan sebesar lebih dari US$500, atau sekitar Rp. 4,4 juta. Wei mengatakan, selama ini dia telah menjual sekitar 40 mayat. Tapi terkadang, keluarga mayat enggan membayar, dan pulang tanpa membawa jenazah yang ditemukan Wei. “Satu kali orang tua mencari anaknya. Mereka melihat sebentar, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Mereka tak membawanya pulang,” ujar Wei.

Jika sudah begini, Wei terpaksa harus menguburkan mayatnya secara pantas. Soalnya, pemerintah akan membiarkan mayat temuannya membusuk tanpa melakukan apapun. Wei mengatakan apa yang dia lakukan bukan semata-mata karena uang, tapi karena alasan lebih pribadi. Dia pun berkisah. Pekerjaan ini, kata Wei, bermula dari usahanya untuk mencari anaknya sendiri, yang tenggelam di Sungai Kuning. “Anak saya tenggelam di sungai ini dan saya tidak dapat menemukan mayatnya. Sangat menyakitkan. Itu sebabnya saya melakukan pekerjaan ini,” ujar Wei. Putra Wei sampai sekarang belum ditemukan.

Sumber: Beritaaneh.blogspot.com

Thursday, June 21, 2012

Kisah Hidup Bahagia selama 16 Tahun Tanpa Uang

Untuk sebagian orang, uang adalah segalanya. Deretan angka yang tercetak di rekening tabungan, tebalnya dompet, adu kemampuan untuk membeli barang termewah atau layanan terekslusif, bisa jadi itu adalah indikator kebahagiaan mereka.

Tapi tidak untuk nenek asal Jerman ini. Selama 16 tahun Heidemarie Schwermer berhasil hidup tanpa uang. Dan ajaibnya, ia justru merasa bahagia. 

Schwermer lahir dan tumbuh di Prusia. Ia adalah putri dari seorang pebisnis sukses. Keluarganya bahkan mampu membayar pengasuh anak dan tukang kebun.

Saat Perang Dunia II melanda Eropa tahun 1940-an, Schwermer dan keluarganya mendadak jatuh miskin, tak punya uang sama sekali. Mereka bahkan harus terusir dari rumah yang nyaman, juga dari negerinya sendiri. Keluarga itu akhirnya lari ke Jerman.

Setelah kerja keras selama bertahun-tahun, ayah Schwermer akhirnya bisa mengulangi masa jayanya. Uang kembali datang dari perusahaan rokok yang ia dirikan. Keluarga itu akhirnya kembali merasakan manisnya hidup.

Namun, Schwermer yang sekarang menentang kehidupan masa lalunya yang makmur bergelimang harta. "Kami kaya tapi pada akhirnya tak punya apa-apa," kata dia, seperti dimuat Daily Mail. "Kami menjadi kaya lagi dan mati-matian mempertahankannya. Aku selalu merasa dipaksa untuk menilai, apakah kami kaya atau miskin."

Schwermer, yang kini berusia 69 tahun, awalnya bekerja sebagai guru dan terapis kejiwaan dengan gaji lumayan bagus. Namun, alih-alih bahagia dengan penghasilannya yang banyak, ia merindukan masa-masa kecilnya yang penuh perjuangan.

Akibatnya, ia menjadi terobsesi untuk menemukan cara baru untuk hidup tanpa bergantung pada uang, baik lembaran kertas maupun gemerincing logam. Pada 1994, ia memulainya dengan membentuk kelompok pertukaran. Namanya "Give and Take Central" atau pusat memberi dan menerima.
Di perkumpulan itu, orang-orang saling menukar layanan sederhana seperti mengasuh bayi atau membersihkan rumah dengan sejumlah barang berujud. Dan Schwermer saat itu menemukan, ia lebih sedikit membutuhkan uang.

Akhirnya, ketika seorang rekan meminta ibu tunggal dengan dua anak itu mengurus rumahnya, Schwermer memutuskan untuk mengambil peluang itu, dan hidup tanpa uang selama setahun penuh.

Ia menjual segala miliknya, termasuk apartemen , menyisakan barang-barang kecil dan benar-benar diperlukan yang ia kemas dalam koper miliknya.

Apa yang sebelumnya ia maksudkan untuk 12 bulan, ternyata bertahan hingga 16 tahun. "Awalnya, aku hanya ingin bereksperimen selama setahun. Tapi aku justru menemukan hidup baru," kata dia. "Dan, aku tak ingin kembali ke kehidupan lamaku."

Awalnya, Schwermer tinggal bersama seorang teman lama. Namun, saat gaya hidupnya menyebar dari mulut ke mulut, ia mulai berceramah soal misinya. Ia laris menjadi pembicara keliling.

Dalam pekerjaan barunya itu, ia hanya menerima tiket kereta api dari para pengundangnya, dan menolak setiap upaya lain untuk membayarnya. "Kebanyakan orang di usiaku memilih untuk duduk manis di kebunnya menikmati masa pensiun," kata dia. "Tapi aku senang jalan-jalan."

Ia juga melakukan pekerjaan di sekitar rumah tempatnya menginap, seperti berkebun, atau melap jendela, untuk memenuhi kebutuhannya.

Dalam dokumenter soal kehidupannya, yang bertajuk "Living Without Money", ia ditampilkan sedang mengumpulkan bahan makanan sisa yang tak terjual di pasar.

Schwermer juga sering menerima pakaian dari teman-temannya, pemberian yang ia sebut sebagai "keajaiban", alih-alih sumbangan. "Aku melihat banyak keajaiban dalam hidupku sehari-hari. Saat aku berpikir soal makanan atau barang lain, tiba-tiba aku menemukannya di jalan atau orang datang dan memberikannya padaku," kata dia.

Ia juga kerap menyumbangkan barang yang tak termuat di tas kecilnya -- yang ia bawa dari rumah ke rumah yang menerimanya menginap.
Meski tak punya rumah dan uang sama sekali, jangan sebut Schwermer gelandangan. "Anda tak bisa membandingkanku dengan tuna wisma. Mereka tidak disukai dan diundang menginap orang lain."

Ada banyak rumah yang membuka pintu lebar-lebar untuknya, namun ia tak pernah lama tinggal apalagi menetap. Jadwalnya tiap minggu padat berkeliling Eropa. "Aku pergi dari rumah ke rumah berbagi filosofi saya."

Bagaimana dengan pendapat keluarganya?

Tentu saja anak-anak dan teman-temannya awalnya keberatan dan menentang. Namun, pada akhirnya mereka terbiasa dengan gayanya yang datang dan pergi. Ia hanya sempat bertemu dua anak dan tiga cucunya sesekali dalam setahun. "Kini mereka bangga dengan apa yang kulakukan. Itu sudah cukup."

Schwermer memutuskan terus berusaha bertahan dengan pilihannya itu. Sebuah keputusan yang membuatnya merasa lebih berarti, tanpa takut kehilangan, tanpa rasa posesif terhadap materi.

Sumber : Vivanews
 

Indahnya Berbagi Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger